Mengapa Menolak Lady Gaga

Sabtu, 19 Mei 2012

Menolak Lady GagaPEKAN ini berita media tanah air diramaikan penolakan rencana konser primadona dunia Lady Gaga yang sedianya digelar pada 3 Juni 2012 mendatang di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta oleh Polda Metro Jaya.

Kepolisian memilih tidak mengeluarkan surat izin untuk konser bertajuk "The Born This Way Ball" demi kepentingan keamanan dan pencegahan konflik antarmasyarakat. Penolakan itu disinyalir atas desakan dua ormas Islam besar, yakni Majelis Ulama Indonesia dan Front Pembela Islam (FPI) karena penampilan Lady Gaga yang eksentrik dan kadang vulgar termasuk pornografi.

Selain media di Indonesia, tidak diberikannya izin konser Lady Gaga juga santer diberitakan media internasional. Wall Street Journal, surat kabar ekonomi dan bisnis, menurunkan judul “Lady Gaga Not Welcome in Indonesia, says Muslim Group” untuk artikelnya. Dalam tulisan tersebut, dikatakan bahwa Lady Gaga ditolak oleh tokoh muslim konservatif karena mempromosikan penyembahan pada setan.

Cable News Network atau CNN memberi judul beritanya "Muslim Protests May Force Cancellation of Lady Gaga Concert in Indonesia". CNN juga menuliskan bahwa ini bukan kali pertama konser Gaga di mancanegara ditolak. Sebelumnya, sebuah kelompok Kristen di Korea Selatan menolak pagelaran tersebut. Sementara biro berita Reuters menurunkan tulisan berjudul "Lady Gaga Gagged in Indonesia after Islamic Opposition".

Tertarik mengetahui kontoversi Lady Gaga ini, saya pun melakukan penelusuran informasi terkait penyanyi bernama lengkap Stefani Joanne Angelina Germanotta itu. Rubrik Sorot Vivanews.com mengulas tentang gaya Lady Gaga yang eksentrik dan kadang vulgar;
Dia dikritik bukan hanya soal penampilan. Lirik lagunya kerap mengundang perkara. Sebut saja, lagu terbaru berjudul ‘Born This Way’. Seperti dilansir dari laman BBC.co.uk, lagu itu disensor di Malaysia. Di sana, stasiun radio memutar lagu ‘Born This Way’ yang telah diedit. Alasannya, lagu itu berlirik dukungan terhadap seks sesama jenis.

Di Libanon, lagu ‘Born This Way’ juga dilarang penguasa setempat. Alasannya, menghina agama Kristen. Sebelumnya, lagu ‘Judas’ di album itu juga dicekal di radio-radio Libanon. Kelompok Katolik setempat menolak lagu itu mampir ke telinga umat.

Tak hanya di Libanon, ‘Judas’ juga dilarang di China. Dia masuk daftar 100 lagu yang harus dihapus dari situs pengunduh musik di negeri panda itu. Pemerintah China menyatakan peraturan itu dibuat agar budaya China tetap lestari. Dari menolak lagu, protes juga menjalar ke konser. Di Korea Selatan, warga Kristen setempat menyerukan pembatalan konser Lady Gaga. [http://sorot.vivanews.com/news/read/314791-konser-lady-gagal]

Selain penampilan dan lirik lagu, kehadiran Lady Gaga juga dikaitkan dengan ritual pemuja setan, portal berita Tribunnews.com menurunkan ulasan tentang Lady Gaga sebagai "Perempuan Utusan Iluminati";
Namun, tahukah anda, setiap aksi panggung dan gaya berpakaian Lady Gaga bukan tanpa alasan. Lady Gaga pun dianggap sebagai 'Boneka Iluminati' melalui aksi-aksinya.

Berdasarkan keterangan dari Wikipedia, Iluminati adalah nama yang diberikan kepada beberapa kelompok, baik yang nyata (historis) maupun fiktif. Secara historis, nama ini merujuk pada Illuminati Bavaria, sebuah kelompok rahasia pada Zaman Pencerahan yang didirikan pada tanggal 1 Mei tahun 1776.

Sejak diterbitkannya karya fiksi ilmiah postmodern berjudul The Illuminatus! Trilogy (1975-7) karya Robert Shea dan Robert Anton Wilson, nama Illuminati menjadi banyak digunakan untuk menunjukkan organisasi persekongkolan yang mendalangi dan mengendalikan berbagai peristiwa di dunia melalui pemerintah dan korporasi untuk mendirikan Tatanan Dunia Baru. [http://www.tribunnews.com/2012/05/16/lady-gaga-perempuan-utusan-iluminati]

Dalam laman lainnya, Tribunnews.com juga mengurai "Arti Logo, Penampilan dan Foto Lady Gaga" yang secara sangat jelas mengungkapkan simbol Iluminati, proses mind control dan simbolisme all seeing eye;
Kebanyakan orang akan menginterpetasikan ini secara sederhana sebagai “sesuatu yang keren untuk dilakukan” atau “pernyataan fashion”. Mereka yang telah mengetahui 101 simbolisme illuminati tahu bahwa All-Seeing Eye kemungkinan adalah simbol yang paling dikenali. Gerakan menyembunyikan satu mata, umumnya mata kiri merupakan perintah okultis. [http://www.tribunnews.com/2012/05/16/arti-logo-penampilan-dan-foto-lady-gaga]

Dari informasi-informasi di atas, saya pun akhirnya paham alasan mendasar menolak konser "The Born This Way Ball" sebagai bagian dari tur keliling dunia Lady Gaga. Namun ulasan ini hanyalah menyampaikan paparan media, tak bermaksud mempengaruhi pilihan masyarakat Indonesia, terutama kaum muda yang telanjur mengidolakannya.

Karena saya percaya, menerima atau menolak Lady Gaga ke Indonesia adalah sebuah pilihan. Sama dengan memilih keyakinan dan agama. | sumber foto: www.voa-islam.com

Foto Kuburan Karebosi di Jurnal IDE Jepang

Kamis, 10 Mei 2012

Foto-Kuburan KarebosiFOTO saya tentang kuburan yang berada di tengah lapangan Karebosi Makassar terbit di jurnal bulanan Ajiken World Trends (Japanese title: Ajiken Warudo Torendo) milik Institute of Developing Economies (IDE) Japan External Trade Organization (JETRO) edisi nomor 141 bulan Juni tahun 2007.

IDE adalah sebuah lembaga penelitian yang berafiliasi dengan JETRO milik pemerintah Jepang, bertujuan untuk memberikan kontribusi intelektual kepada dunia sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan dan pengembangan daerah.

IDE mengumpulkan pengetahuan lokal yang didasarkan pada kekhasan wilayah dan menyebarkan pemahaman yang lebih baik dari daerah-daerah baik di dalam negeri dan luar negeri. Kegiatannya memberikan landasan intelektual untuk memfasilitasi kerjasama antara Jepang dan masyarakat internasional untuk mengatasi isu-isu pembangunan.

Dalam jurnal Ajiken World Trends (versi digitalnya: http://www.ide.go.jp/Japanese/Publish/Periodicals/W_trend/200706.html) itu, foto dan ulasan tentang kuburan Karebosi ini terdapat dalam halaman 37-40 (versi digitalnya: http://www.ide.go.jp/Japanese/Publish/Periodicals/W_trend/pdf/wt_sulawesi0706.pdf).

Tiga foto saya itu merupakan pelengkap dari artikel berjudul; Mitos: Tujuh Penyelamat dari Karebosi, berikut penggalannya:

Konon menurut cerita, Gowa di abad ke-10 dilanda keadaan kacau balau. Gowa bagai sebuah rimba tak bertuan. Orang-orang saling beradu kekuatan. Setiap orang ingin membuktikan bahwa, dirinyalah yang terhebat. Dan akhirnya yang lemah tersingkir dari kehidupan.

Suatu hari di kala itu, Gowa dihantam hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar. Peristiwa itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Dan di hari ke delapan, petir akhirnya berhenti berkilat-kilat dan hujan hanya bersisa pelangi dan gerimis seperti benang halus yang jatuh dari langit. Karebosi yang dulu merupakan hamparan luas nan kering lalu digenangi air.

Lantas sekitar ratusan mata rakyat Gowa saat itu tiba-tiba menyaksikan timbulnya tujuh gundukan tanah di tengah hamparan tersebut. Tujuh orang bergaun kuning keemas-emasan pun muncul sesaat lalu menghilang di tengah gerimis. Yang tersisa kemudian hanya tujuh gundukan tanah berbau harum.

Tak ada yang tahu asal muasal ketujuh orang itu. Namun, rakyat Gowa saat itu percaya kalau mereka adalah tomanurung (semacam dewa dalam mitologi Bugis Makassar) yang dikirimkan oleh Tuhan untuk negeri mereka. Kehadiran tujuh orang yang disebut sebagai Karaeng Angngerang Bosi atau Tuan yang Membawa Hujan, pun menginspirasi rakyat Gowa saat itu untuk memberi nama hamparan yang kemudian mereka jadikan sebagai sawah kerajaan itu.

Jadilah nama Kanrobosi diberikan pada sawah itu. Kanro berarti anugerah yang Maha Kuasa dan bosi berarti hujan atau bisa juga bermakna kelimpahan. VOC kemudian mengubah nama itu jadi Koningsplein. Setelah penjajah Belanda menyerah, nama itu lantas berubah lagi jadi Karebosi seperti yang dikenal banyak orang dewasa ini.

Kurang lebih lima abad kemudian, di bawah kepemimpinan Batara atau Raja Gowa ke-7, tujuh gundukan tanah itu dihormati sebagai tempat berpijak pertama kali tujuh tokoh kharismatik tersebut. Lantas beberapa orang membentuk tujuh gundukan itu menyerupai kuburan dengan cara tiap gundukan diberi batu sebanyak tujuh buah. Cara ini sering dilakukan orang-orang di jaman dahulu untuk menandai sebuah kuburan.

Seiring berjalannya waktu, berziarah ke tujuh kuburan itu dianggap sebagai salah satu warisan tradisi penghormatan masyarakat dan penguasa setempat kepada tujuh tokoh yang diperkirakan turun dari langit tersebut. Pada saat H.M. Daeng Patompo menjabat sebagai Wali Kota Makassar pada 1965-1978, tujuh kuburan itu sempat ditutup. Namun beberapa orang yang percaya akan mitos ketujuh kuburan itu memugarnya kembali.

Artikel Mitos: Tujuh Penyelamat dari Karebosi ini ditulis oleh Nilam Indahsari dan awalnya dipublikasikan pada blog jurnalisme warga Panyingkul.com, Agustus 2006: http://www.panyingkul.com/view.php?id=25. | *

Kata Maros Akhirnya Ikut Disebut

Kamis, 03 Mei 2012

bandara internasional sultan hasanuddin makassar di marosSETELAH tugu batas wilayah Kabupaten Maros dibangun di jalan masuk Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, kini nama Kabupaten Maros ikut disebut dalam announcement atau pengumuman saat pesawat akan take off atau landing.

Selama ini, pengumuman di kabin saat pesawat akan mengudara maupun mendarat berbunyi; "Sesaat lagi pesawat akan mendarat/meninggalkan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar".

Kini pengumuman itu mendapat tambahan kata Maros, menjadi; "Sesaat lagi pesawat akan mendarat/meninggalkan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros".

Penambahan kata Maros ini tertuang dalam surat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan tanggal 26 April 2012 lalu. Seluruh operator penerbangan dan perusahaan penerbangan (airlines) diminta untuk segera melaksanakan dan menindaklanjuti keputusan ini.

Bagi masyarakat dan pemerintah Kabupaten Maros, keputusan ini menjadi wujud pengakuan pemerintah pusat atas keberadaan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dalam wilayah Kabupaten Maros. Sehingga masyarakat luas memahami kalau pintu gerbang udara di Kawasan Timur Indonesia ini berada dalam wilayah Kabupaten Maros. | **

Pesan dari Tim Google AdSense

Selasa, 01 Mei 2012

PESAN menarik tiba di email saya pagi ini. Pesan itu datang dari Tim Google AdSense, isi pesannya seperti ini:

Halo, kami senantiasa meninjau semua penayang berdasarkan kebijakan program serta persyaratan dan ketentuan.

Saat meninjau akun Anda baru-baru ini, pakar kami menemukan bahwa akun tidak sesuai dengan kebijakan kami. PEDOMAN MASTER WEB: Pakar program kami secara rutin meninjau situs dalam program AdSense.

Situs yang menampilkan AdSense harus menawarkan nilai yang signifikan bagi pengguna akhir dengan menyediakan konten yang unik dan relevan, serta tidak menempatkan iklan di situs yang memiliki sedikit atau tidak memiliki konten asli. Iklan Google juga tidak dapat ditempatkan pada laman yang tidak berbasis konten.

Situs Anda juga harus menyediakan pengalaman pengguna yang baik melalui navigasi dan pengaturan yang jelas. Pengguna harus dapat dengan mudah mengeklik seluruh laman Anda dan menemukan informasi yang dicari.

Karena situs Anda melanggar semangat kebijakan kami, kami telah menonaktifkan penayangan iklan.

Untuk informasi selengkapnya, harap tinjau kebijakan program kami (https://www.google.com/adsense/policies) dan Panduan Mutu Master Web
Google (http://www.google.com/support/webmasters/bin/answer.py?answer=35769#quality).

Akibatnya, akun AdSense Anda telah dinonaktifkan.

Sebagaimana tercantum dalam Persyaratan dan Ketentuan kami, penayang yang melanggar perjanjian ini juga tidak dapat menerima pembayaran berikutnya. Penghasilan dalam akun Anda akan dikembalikan kepada pengiklan yang dirugikan.

Harap perhatikan bahwa langkah ini diambil dalam upaya melindungi kepentingan pengiklan AdWords dan mempertahankan mutu program AdSense.

Terima kasih atas pengertian Anda.
Hormat kami,

Tim Google AdSense.


Membaca pesan ini, saya hanya bisa berguman; terimakasih Tim Google AdSense sudah memberi saya kesempatan bergabung dengan program ini, meski hanya sekejap. Selamat Hari Buruh!

Puisi Enigma dalam Buku Sekolah

Minggu, 29 April 2012

Puisi Enigma Ilham Halimsyah dalam Buku SekolahSETELAH menemukan dua puisi saya terpublikasi dalam dua blog, saya juga menemukan puisi berjudul "Enigma" pada buku pelajaran untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).

Puisi ini saya tulis sekitar tahun 2001 dan ikut dibukukan dalam kumpulan puisi dan esai "Hijau Kelon & Puisi 2002" dengan penyunting Sutardji Calzoum Bachri dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas, Jakarta (2002).

Dalam "Buku Sekolah Elektronik (BSE)" berjudul; "Kompetensi Berbahasa dan Sastra Indonesia untuk Kelas X SMA dan MA" yang ditulis oleh Syamsuddin AR dan kawan-kawan itu, puisi "Enigma" ini terdapat di halaman 57 dan menjadi salah satu contoh soal untuk materi pelajaran mendengarkan dan mengungkapkan isi puisi.

Puisi Enigma Ilham Halimsyah
Saya sempat kaget saat melihat puisi saya ini terbit dalam buku terbitan Pusat Perbukuan Departeman Pendidikan Nasional, Jakarta (2009) ber-ISBN 978-979-068-916-9 tersebut, karena seingat saya pihak penerbit tak pernah melakukan konfirmasi langsung atas diterbitkannya karya itu sebagai materi ajaran siswa.

Seorang teman menyarankan agar saya menanyakan hak royalti sebagai hak penulis atas pemuatan karya saya tersebut kepada pihak penyusun atau penerbit buku yang hak cipta bukunya telah dibeli oleh Departeman Pendidikan Nasional dari penerbit PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Namun saya binggung, bagaimana melakukannya. Kalau melihat sejumlah puisi yang juga terdapat dalam buku itu, nampaknya karya-karya sastra tersebut diambil atau disadur dari buku "Hijau Kelon & Puisi 2002". Saya memang tak paham kaidah pemuatan ulang puisi dari satu buku ke buku lainnya, apakah hal ini melanggar hak cipta atau tidak.

Untuk sementara, saya berpendapat, kalau buku ini diterbitkan secara komersial, tentu saja saya juga berhak mendapat "bagi hasil" penjualan buku ini. Namun kalau buku ini diedarkan non-komersial, setidaknya saya sudah melakukan "bagi ilmu".

Saya juga berpendapat, kalau diterbitkannya karya puisi saya dalam buku "Kompetensi Berbahasa dan Sastra Indonesia untuk Kelas X SMA dan MA" ini menjadi wujud apresiasi penyusun buku terhadap karya saya untuk dibaca dan dipelajari oleh para siswa.

Namun, jika kelak menemukan unsur pelanggaran hak cipta dalam pemuatan puisi saya dalam buku tersebut, saya tentu akan mempertimbangkan langkah lainnya. Salam. | *

Menemukan Dua Puisi dalam Dua Blog

Rabu, 25 April 2012

Dua Puisi dalam Dua BlogPUISI-puisi saya ternyata telah terpublikasi secara meluas, siang ini saya menemukan dua diantaranya pada dua blog berbeda.

Puisi pertama berjudul; "Rindu, Gelisah, Dendam", puisi ini saya tulis sekitar tahun 2002 dan terpublikasi pertamakali dalam Jurnal Puisi edisi nomor 9 - September 2002.

Jurnal Puisi merupakan media berkala yang diterbitkan oleh Yayasan Puisi bekerjasama dengan Yayasan Indonesia Tera dan Yayasan Bentang Budaya.

Selama ini, saya memang mencari terbitan Jurnal Puisi 9/9/02 ini, sebab jurnal milik saya hilang dipinjam teman. Beruntung, saya menemukan puisi ini di blog Hanjakata, blog sederhana yang mempublikasi puisi-puisi karya penyair Indonesia, simak saja:

Rindu, Gelisah, Dendam
-Ilham Halimsyah

Kalau pagi mulai merambat di sela dedaunan
dan burung gereja menisik sayap di sudut rumah
jangan memaki cermin
sebab aku pun tahu engkau menyimpan rindu

Kalau siang mulai mengirim gerah di sela jendela
dan matahari membakar ubun-ubun
jangan mencaci cuaca
sebab aku pun tahu engkau menyimpan gelisah

Kalau malam mulai merayap di sela mega
dan senja sebentar lagi berganti kelam
tak usah kirim pesan
sebab aku pun tahu engkau menyimpan dendam


Puisi kedua adalah puisi berjudul "Enigma", puisi ini saya tulis sekitar tahun 2001 dan terpublikasi pertamakali di halaman sastra Bentara Harian Kompas pada tahun yang sama.

Puisi ini kemudian ikut dibukukan dalam kumpulan puisi dan esai "Hijau Kelon & Puisi 2002" dengan penyunting Sutardji Calzoum Bachri dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas, Jakarta (2002).

Selain dalam Bentara Harian Kompas dan "Hijau Kelon & Puisi 2002", saya juga menemukan puisi ini terpublikasi di blog Republik Rakyat Bulak, simak yuk:

Enigma
-Ilham Halimsyah

begitu lama bunga berguguran
membuai musim yang tak henti mengadu
pada laut pada gunung pada langit

barangkali kita telah lama saling mencaci
sehingga lupa warna pelangi

tak ada garis dan lengkung
tak ada wangi dan aroma
tak ada kata dan suara
semua dalam belenggu
kedunguan kita sendiri-sendiri

masih saja engkau menahan rintih di puncak pinus


Semoga kehadiran dua puisi saya ini akan memperkaya khazanah sastra Indonesia. | *

Membaca Lagi Puisi "Surat dari Ibu"

Minggu, 22 April 2012

surat dari ibuKEMARIN malam, Sabtu (21 April), saya memenuhi undangan teman-teman Masyarakat Seni Salima Maros menghadiri pentas seni yang mereka gelar.

Acara ini berlangsung di kampus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Yayasan Perguruan Islam Maros (YAPIM).

Dalam kesempatan ini, saya pun diminta ikut baca-baca puisi, padahal sudah agak lama saya tak baca puisi. Meski aktifitas baca puisi sudah saya lakukan sejak berusia 10 tahun.

Kala itu, saya kerap kali menjadi utusan sekolah bahkan daerah dalam lomba baca puisi untuk siswa SD. Dari kegemaran baca puisi itu sejak kecil, saat mahasiswa saya jadi rutin menulis puisi.

Sejumlah puisi saya pun terpublikasi di banyak media juga terbitan berkala. Beberapa puisi saya bahkan dibukukan, diantaranya dalam buku Hijau Kelon & Puisi 2002 (Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2002), Jurnal Puisi (Nomor 9, 2002), Sajak Dengan Huruf Tak Cukup (Inninawa, Makassar, 2004) dan Aceh Dukaku! (Gora Pustaka, Makassar, 2005).

Dalam dialog dan apresiasi seni malam itu di hadapan sejumlah penyair dan seniman Maros, saya memilih membacakan puisi berjudul Surat Dari Ibu karya Asrul Sani. Bagi saya, puisi ini menyimpan kisah tersendiri. Dulu, saat mengikuti lomba baca puisi, puisi inilah yang paling sering saya bacakan dan menjadikan saya menjuarai banyak lomba baca puisi.

Membaca puisi ini seperti mengelana kembali ke masa kecil. Malam itu, saya pun berupaya membacanya dan mendeklamasikannya dengan intonasi kalimat dan karakter suara yang tepat.

Surat Dari Ibu
karya Asrul Sani

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke dunia bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"

Saya mengaja memilih Membaca Lagi Puisi Surat dari Ibu malam itu, selain untuk memperingati Hari Kartini dan mengenang perjuangannya, puisi ini juga saya persembahkan untuk para ibu. | *

Manfaat dan Jenis Kelamin Blog

Rabu, 18 April 2012

jenis kelamin blogDISKUSI menarik terjadi siang ini di grup Komunitas Blogger Maros di website jejaring sosial Facebook. Diskusi ini diawali dari pertanyaan yang saya ajukan; apa manfaat ngeblog bagi kamu?

Pertanyaan ini memang sengaja saya ajukan untuk mengetahui manfaat apa yang diperolah para pegiat blog dari aktivitasnya itu. Mengingat blogging saat ini mulai diminati kaum muda sejalan kemudahan akses internet.

Member grup ini, Gempur Abdul Ghofur, blogger asal Surabaya penggagas Blogger Nusantara, mengemukakan 6 manfaat blog, yakni;
  1. Merekam dan mendokumentasikan pikiran.
  2. Memperluas wawasan keilmuan dengan saling berbagi pengetahuan.
  3. Menggugah kesadaran budaya dari pola komunikasi yang terbentuk melalui blog.
  4. Memacu adrenalin untuk terus menulis dan terus melanggengkan tradisi berbagi.
  5. Membangun dan mengukuhkan sebuah "image" pribadi (personal branding), disengaja atau tidak disengaja, dari pola dan frekuensi tulisan yang dilahirkan.
  6. Menjadi ladang penghasilan baik secara langsung maupun tidak langsung, baik cepat maupun lambat.
Pendapat Gempur, pemilik blog aghofur.com ini tentu merupakan manfaat blog secara ideal. Jawaban itu kemudian ditanggapi member lainnya, Uak Sena, dengan mengemukakan kalau blog dapat mendukung pekerjaan di dunia nyata. Pendapat Uak ini memang sejalan dengan profesinya, dosen salah satu perguruan tinggi swasta di Maros.

Bahkan untuk berkomunikasi dengan para mahasiswanya, Uak menggunakan website elearningpendidikan.com yang dikelolanya sendiri sebagai alat bantu pembelajaran dan pengajaran bermodel distance learning atau pembelajaran jarak jauh. Uak Sena juga mengemukakan kalau dengan ngeblog, kita bisa belajar dari siapa saja dari belahan dunia mana pun.

Jawaban itu sejalan dengan pendapat Isal (isalblog.com) yang mengatakan kalau aktivitas blogging membuatnya mendapat banyak teman, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Manji Lala juga mengemukakan kalau saat ini tujuannya "bercuap-cuap" lewat blognya gizimu.com untuk berbagi informasi gizi kepada masayarakat, karena sesak melihat maraknya informasi gizi yang menyesatkan yang lebih berorientasi produk. Sehingga dapat disimpulkan kalau selain menjadi sarana komunikasi, blogging juga menjadi wadah berbagi informasi.

Jawaban Abdhi Griffindors, lain lagi, siswa sekolah menengah atas ini menilai, selain sebagai sarana komunikasi dan wadah berbagi informasi, blog membantunya mengembangkan kreatifitas, melatih diri bersikap sportif dan sebagai sarana untuk mengambangkan sikap pesahabatan, persaudaran dan kesetaraan gender.

Saya tiba-tiba tertarik dengan pernyataan kesetaraan gender itu, salah satu alasan Abdhi (cybercnesoftware.com) ini mengemukakan hal itu karena blogger tidak melihat jenis kelamin, laki-laki atau perempuaan, tua atau muda, semuanya punya kesempatan untuk berinteraksi dalam dunia blogging.

Saya kemudian menanggapinya dengan mengajukan pertanyaan; sebenarnya yang bernuansa gender itu konten atau pengelola blognya, sebab ada blog dengan konten khusus wanita, malah dikelola oleh pria.

Pertanyaan ini ditanggapi Gempur dengan memberikan ilustrasi; blog yang bertema atau berisi topik seputar wanita dan kewanitaan tapi dikelola oleh pria, lantas apa kelaminnya?

Gempur pun memberi entry poin, blog tersebut, blog untuk siapa saja utamanya perempuan, meski pengelolanya laki-laki, yang terpenting, Bias Gender dan segala turunan efeknya yang berlaku secara sosial (offline) tidak perlu ada dan memang harus tiada pada dunia online.

Justru Bias Gender dalam dunia online ada pada konten pornografi dan pornoaksi, hal itu jelas melecehkan dan merendahkan perempuan secara umum, karena perempuan seringkali sebagai objek penderita dan subyek masalah, kecuali beberapa pandangan berbeda yang justru menganggap itu sebagai sebuah kebebasan yang meninggikan derajat perempuan.

Diskusi seputar manfaat ngeblog dan jenis kelamin blog ini belum berakhir, karena menyisakan dua pertanyaan; dampak blogging pada blogger perempuan? dan dampak blogging pada perempuan bukan blogger? Jawaban pertanyaan ini akan saya paparkan nanti setelah didiskusikan. Happy blogging!

 
IHSYAH © 2012 | Designed by Bubble Shooter, in collaboration with Reseller Hosting , Forum Jual Beli and Business Solutions